Indonesia tak lagi sekadar pembeli di etalase militer dunia. Lewat kemitraan strategis dengan Turki, era baru co-creation teknologi alutsista dimulai, mengubah peta kekuatan industri pertahanan nasional.

Lupakan citra Indonesia sebagai negara yang sekadar menenteng katalog dan menulis cek untuk membeli peralatan militer. Sebuah babak baru yang lebih fundamental tengah ditulis. Di sela hiruk pikuk pameran industri pertahanan bergengsi di Istanbul, sebuah kesepakatan strategis dengan Turki telah menggeser paradigma lama. Ini bukan lagi soal jual-beli, melainkan tentang merajut masa depan teknologi alutsista bersama.

Pertemuan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan petinggi industri pertahanan Turki, Haluk Görgün, pada akhir pekan lalu bukanlah sekadar jabat tangan seremonial. Di baliknya, tersimpan sebuah ambisi besar: mengubah Indonesia dari konsumen menjadi co-creator. Selama ini, ketergantungan pada produk impor seringkali menjadi tumit Achilles bagi kedaulatan pertahanan kita. Kita membeli kecanggihan, tetapi seringkali tanpa transfer ilmu yang sepadan.

Kini, fokus kerja sama dengan Turki secara eksplisit menyasar jantung persoalan: alih teknologi, riset bersama, hingga produksi bareng. Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi puas hanya dengan memiliki tank canggih atau kapal perang modern. Tujuannya kini lebih dalam, yaitu memiliki kemampuan untuk merancang, mengembangkan, dan memproduksinya di tanah air. Turki, dengan kemajuan pesat industri pertahanannya yang berhasil menembus pasar global, dilihat sebagai mitra ideal yang memahami betul lika-liku membangun kemandirian dari nol.

Kerja sama ini melampaui sekadar perakitan lokal. Bayangkan para insinyur Indonesia bekerja bahu-membahu dengan para ahli Turki untuk menciptakan sistem radar generasi baru, atau mengembangkan platform drone tempur (UCAV) yang disesuaikan dengan kontur geografis kepulauan kita yang unik. Peluang ini membuka pintu bagi lompatan kuantum dalam kapasitas industri pertahanan nasional. Ini adalah jalan terjal, namun menjanjikan kemandirian sejati.

Pada akhirnya, kesepakatan ini adalah sebuah pertaruhan cerdas. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, menggantungkan nasib pertahanan pada belas kasihan negara lain adalah sebuah kemewahan yang tak lagi bisa kita nikmati. Dengan menggandeng Turki, Indonesia tidak hanya mendatangkan perangkat keras, tetapi juga mengimpor cetak biru kemandirian. Ini adalah langkah berani untuk memastikan bahwa di masa depan, teknologi alutsista yang melindungi kedaulatan kita benar-benar lahir dari keringat dan kecerdasan anak bangsa. Era “belanja perang” mungkin telah resmi berakhir, dan fajar kemandirian teknologi pertahanan baru saja dimulai. Sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *