Tahun 2026, tren jajanan viral masih terus bermunculan dengan kecepatan yang bikin kepala pusing. Satu minggu muncul es krim rasa rendang, minggu berikutnya ada minuman boba dengan topping yang belum pernah terdengar sebelumnya. Banyak orang langsung penasaran, langsung beli, tanpa sempat berpikir dua kali soal keamanannya. Nah, di sinilah letak masalah yang kerap diabaikan — bukan soal rasanya, tapi soal apakah jajanan itu benar-benar aman dikonsumsi.
Tidak sedikit yang pernah mengalami sakit perut atau reaksi alergi setelah mencoba jajanan viral yang terlihat menggugah selera di media sosial. Kasusnya bukan satu-dua. Di berbagai platform, laporan konsumen tentang jajanan yang menggunakan bahan tidak layak, pewarna berlebihan, hingga pengawet ilegal terus bermunculan setiap tahunnya. Ironisnya, semakin viral suatu produk, semakin besar tekanan produsen kecil untuk menekan biaya produksi — dan di sinilah kompromi kualitas sering terjadi.
Mengenali jajanan viral yang aman dikonsumsi bukan berarti harus jadi ahli kimia pangan. Cukup dengan membekali diri dengan pengetahuan dasar dan kebiasaan kritis sebelum membeli. Artikel ini membahas cara bijak mengenali jajanan viral yang aman dikonsumsi, lengkap dengan tanda-tanda yang perlu diwaspadai dan langkah praktis yang bisa langsung diterapkan.
Cara Mengenali Jajanan Viral yang Aman Dikonsumsi dari Kemasannya
Kemasan adalah hal pertama yang bisa diamati. Jajanan yang diproduksi secara bertanggung jawab biasanya mencantumkan informasi yang lengkap dan jelas — bukan sekadar nama produk dan foto yang menarik.
Cek Nomor Izin BPOM atau P-IRT
Di Indonesia, produk pangan olahan yang beredar secara komersial wajib memiliki izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) atau minimal sertifikat P-IRT (Produksi Industri Rumah Tangga Pangan) bagi produk skala kecil. Nomor ini bisa diverifikasi langsung melalui situs resmi BPOM atau aplikasi Cek BPOM yang kini semakin mudah diakses. Kalau sebuah produk viral tapi nomornya tidak bisa ditemukan dalam database resmi, itu sinyal yang patut diwaspadai.
Perhatikan Label Komposisi dan Tanggal Kedaluwarsa
Jajanan yang aman umumnya mencantumkan daftar bahan secara transparan. Coba bayangkan membeli keripik viral yang labelnya hanya bertuliskan “bumbu spesial” tanpa keterangan lanjutan — itu bukan misteri yang menarik, tapi potensi risiko kesehatan. Tanggal kedaluwarsa pun wajib ada dan mudah dibaca. Produk tanpa tanggal ini berarti belum memenuhi standar pelabelan pangan yang berlaku.
Waspadai Tanda Bahaya yang Sering Disepelekan
Tidak semua jajanan viral diproduksi dengan niat buruk, tapi kelalaian dalam proses produksi sama berbahayanya. Ada beberapa tanda fisik dan informasi yang bisa membantu menilai keamanan sebuah produk sebelum dikonsumsi.
Warna yang Terlalu Mencolok Bisa Jadi Tanda Bahaya
Warna merah menyala, biru neon, atau kuning fluoresen pada makanan memang menarik secara visual — bahkan jadi alasan utama konten jajanan itu viral. Tapi menariknya, warna-warna terlalu ekstrem itu sering kali mengindikasikan penggunaan pewarna sintetis non-pangan, seperti Rhodamin B yang sudah dilarang keras oleh BPOM. Produk pangan legal tetap bisa berwarna cerah menggunakan pewarna alami atau pewarna pangan yang diizinkan — bedanya ada pada intensitas dan kecerahan yang tidak “mengganggu” mata.
Harga Terlalu Murah untuk Ukurannya
Harga bisa menjadi petunjuk tidak langsung soal kualitas bahan yang digunakan. Jajanan viral yang dijual dengan harga jauh di bawah standar pasar — misalnya minuman susu segar dengan harga sepersekian dari harga normal — patut dipertanyakan sumber bahan bakunya. Banyak orang mengabaikan ini karena tergoda label “viral” dan antrian panjang, padahal harga yang tidak masuk akal sering kali mencerminkan kompromi di level bahan baku atau proses produksi.
Kesimpulan
Mengenali jajanan viral yang aman dikonsumsi sejatinya adalah soal membangun kebiasaan kritis yang sederhana namun konsisten. Mulai dari mengecek nomor izin edar, membaca label komposisi, hingga memperhatikan warna dan harga — semua langkah ini tidak membutuhkan waktu lama, tapi dampaknya besar bagi kesehatan jangka panjang. Di tengah banjir konten kuliner yang terus mengalir setiap harinya, kemampuan memilah mana yang aman dan mana yang sekadar menarik secara visual adalah keterampilan yang relevan untuk semua kalangan.
Jajanan viral bukan musuh. Banyak di antaranya diproduksi oleh pelaku UMKM yang jujur dan berkomitmen pada kualitas. Tugas kita sebagai konsumen adalah memberi apresiasi pada yang memang layak — bukan sekadar yang ramai dibincangkan. Dengan lebih selektif, kita tidak hanya melindungi kesehatan diri sendiri, tapi juga mendorong standar produksi pangan yang lebih baik di industri jajanan tanah air.
FAQ
Apakah semua jajanan viral yang tidak punya nomor BPOM berbahaya?
Tidak selalu berbahaya, tapi tetap berisiko lebih tinggi karena tidak melewati proses pengujian resmi. Produk tanpa izin edar berarti keamanan bahannya belum diverifikasi oleh otoritas berwenang, sehingga konsumen tidak memiliki jaminan perlindungan jika terjadi masalah kesehatan.
Bagaimana cara mengecek apakah nomor BPOM pada kemasan asli atau palsu?
Masukkan nomor yang tertera ke aplikasi Cek BPOM atau situs resmi bpom.go.id. Jika nomor valid, data produk seperti nama, produsen, dan jenis kemasan akan muncul dan bisa dicocokkan dengan informasi di kemasan yang Anda pegang.
Apakah jajanan viral yang dijual secara online lebih berisiko dibanding yang dijual langsung?
Belum tentu, tapi risiko informasi yang tidak transparan memang lebih tinggi saat membeli online. Pastikan penjual mencantumkan informasi produk secara lengkap, termasuk bahan, tanggal produksi, dan nomor izin — bukan hanya foto produk yang estetik.
